0330
-_-_-
-_-_-
Song fiction of
Don’t Go
Performed by EXO
-_-_-
“Kepakan sayap
kecilmu mencuri perhatianku
Gerak tanganmu,
seakan menuntunku untuk mengikutimu
Setiap malamku,
teringat akan ketulusan matamu dan cerita dalam diammu”
“Apa yang kau
lakukan?”
Aku menoleh.
Menatap mata tajam miliknya. Dia mengulum senyum yang membuatnya terlihat
semakin tampan. Tangannya terulur mengambil lembaran kertas berserakan di
sekitarku. Kedua manik cokelat gelapnya menatap serius lembar demi lembar
karyaku. Mungkin aku tidak bisa menyebutnya dengan karya, mengingat lukisanku
tidak lebih baik darinya.
“Apa ini aku?”
Dia bertanya dan
menunjukkan selembar coretan yang kubuat acak. Sedikit kuselipkan nama lelaki
itu di pojok lembarnya. Coretan nama itu tidak terlalu besar untuk rentetan
barisan semut, bahkan semut yang melewatinya tidak akan menyadari jika itu
sebuah nama.
“Kau ingin aku
menilai lukisanmu?”
Tanya lelaki itu lembut.
Bagian dari tubuhnya yang sangat kusukai, kelembutan. Dia mengetuk beberapa
kali telunjuk ke dagunya, sedikit memiringkan kepala dan memandangi lukisanku,
terdiam cukup lama. Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyum yang
rupawan.
“Aku suka lukisanmu.
Kau memang pandai melukis, sama sepertiku.”
Kami terdiam.
Beberapa rangkaian kata yang bisa membuatku melayang jauh di langit biru nan
luas dan menghempaskan diri ini di kapas lembut yang biasa disebut awan.
Perlahan, sebuah tangan menggenggam pergelangan tanganku, membawaku dalam
kedamaian yang tiada tara. Mata ini melirik sekilas wajah menawan itu. Kedua
kelopak matanya tertutup, raut wajah yang damai, menikmati desiran angin Musim
Semi yang damai.
Desiran angin
nakal memainkan anak rambutku, membuatnya sedikit berantakan. Kulakukan hal
yang sama dengan lelaki itu. Memejamkan kedua mataku, merasakan hembusan angin
yang menampikkan syarat akan ketenangan.
“Aku ingin
selamanya seperti ini. Bersama dirimu. Malaikatku.”
Aku terbangun.
Mendapati diriku dalam balutan selimut cokelat muda dan ruangan sempit yang
kusebut sebagai kamar tidur. Mimpi. Ternyata hal indah saat bersamanya hanya
mimpi. Kulirik jam kecil yang bertengger di nakas samping ranjangku.
“Jam 03.30”,
gumamku sembari menyibakkan selimut yang membalut tubuhku, merangkak perlahan
ke arah jendela dan membukanya perlahan. Angin dingin khas malam menyapu
seluruh permukaan wajahku. Dinginnya menusuk. Tidak berbeda jauh dengan hatiku.
“Aku tersesat.
Terjatuh dalam indahnya pesonamu
Melupakan
bagaimana cara bernafas, aku mabuk oleh keindahanmu
Tidak bisa lepas
mata ini saat melihat cara dudukmu yang lembut seperti Waltz
Mata ini, selalu
mengikuti ke mana pun kau melangkah”
“Hei, kau mau
kemana?”
Lelaki itu tidak
menoleh sedikit pun. Tubuh tegapnya, kakinya yang panjang, membuatku harus
berlari agar langkahku sama dengannya. Lihatlah raut datar yang ia tampilkan,
sangat berbeda dengan kepribadian yang sesungguhnya. Walau begitu, dia
tetap menjadi kesukaanku kapan pun dan dimana pun. Lelaki ini adalah nafasku,
inspirasiku, ketenanganku, bahkan hidupku. Mata ini selalu memandangnya. Apapun
itu, termasuk berjalan, makan, duduk, tersenyum, tertawa, menangis, sampai
mencintaiku. Dan, yah, aku juga
mencintainya. Terjebak terlalu dalam akan pesonanya.
“Apa lagi yang kau
lamunkan?”
Dia berhenti.
Membalikkan badan tiba-tiba. Aku tersentak. Tidak sengaja terbentur oleh dada
bidangnya. Dia menatapku aneh, sedangkan aku mengusap dahiku yang cukup sakit.
Aku menunduk. Tidak berani menatap makhluk yang Tuhan ciptakan dengan jenis
laki-laki, tetapi memiliki ketampanan melebihi kata normal.
“Kau selalu
seperti itu. Lain kali jangan melamun, mengerti?”
Aku mengangguk
menanggapi nasihat yang dia ucapkan. Tangan kanannya terulur dan menggenggam
pergelangan tanganku dengan lembut. Lelaki itu melangkahkan kaki, bergeming dan
memaksa diriku untuk menggerakkan kedua kaki yang seakan membeku di tempat. Dia
terlalu berpengaruh untukku.
Lorong-lorong
sekolah terlihat lenggang. Menyisakan gema langkah kaki kami yang saling
beradu. Sang Mega menyongsong di ufuk barat, terlihat bias oranye yang
bercampur dengan nila, membentuk perpaduan warna yang memesona. Seberkas cahaya
menyinari wajah rupawan yang masih menarikku untuk berjalan. Membingkai
wajahnya dengan anggun, bak malaikat turun dari Surga. Mata ini, tidak pernah
terlepas dari gerak-geriknya. Memandanginya dalam diam. Walaupun, tak jarang
diketahui oleh sang pemilik.
Lorong-lorong sepi
dengan dedaunan berserakan di sudut-sudut lantainya. Seberkas cahaya masuk
melalui jendela yang beberapa kacanya telah pecah. Menyinari secercah harapan
di sudut gelap lorong ini. Kenangan itu tercetak jelas dalam hampanya udara.
Bagai layar proyektor yang menampilkan gambar hologram tembus pandang. Bayangan dua
makhluk ciptaan Tuhan dengan senyum bahagia dan tawa lepas yang membingkai
wajah keduanya. Candaan terlontar dari bibir mungil Sang Gadis terdengar begitu
jelas melalui indera pendengaranku, merasakan rasa sesak yang tiba-tiba datang.
“Bawalah aku ke
tempat kau berada
Bawa aku bersamamu
Meskipun itu di
ujung dunia, aku akan terus mengikutimu”
“Lihat! Aku
berhasil mendapatkan beasiswa itu.”
Dia berteriak
senang. Berlari ke arahku sembari melambai-lambaikan selembar amplop putih
besar. Hatiku mencelos melihat senyumnya. Terasa sesak. Seakan menginginkannya
agar tidak pergi. Menginginkan dia terus bersamaku, di sisiku.
“Ada apa denganmu?
Apa kau tidak senang?”
Raut kesedihan
itu. Jujur, aku membenci ekspresi wajahnya yang menyedihkan seperti itu.
Bagaikan anak anjing yang tidak diberi makan selama satu minggu. Kuulas senyum
kecil membalas raut sedihnya. Pelan, wajahnya kembali menjadi Sang Mentari di
Musim Semi.
“Aku akan
sering-sering mengabarimu dari Canada nanti. Tunggulah sampai aku pulang.”,
ucapnya semangat. Aku menunduk. Meragukan setiap kata yang terlontar dari
bibirnya.
“Aku janji. Aku
akan datang padamu.”
Aku mendongak.
Menatap manik cokelat miliknya, mencari-cari jikalau dia berbohong. Tetapi aku
salah. Tidak ada kebohongan di sana. Yang ada hanyalah kejujuran yang sangat
mendalam. Ia berjanji akan
kembali dan aku percaya itu.
“Terima kasih.”
Pelukan. Dia
memelukku. Rasa hangat yang mengalir bagaikan aliran listrik, menyengat,
memberikan sensasi tersendiri. Berkali-kali dia menggumamkan kata ‘terima
kasih’ dan ‘aku mencintaimu’ di dekat daun telingaku. Pipiku terasa panas dan
aku yakin warna merah tercetak jelas di kedua sisi pipiku.
-_-_-
Hari demi hari
berlalu begitu cepat. Hari ini, pukul 09.30, aku akan mengantarkannya ke
Bandara. Di Halte Bus ini aku menunggu kehadirannya, melihat jam yang melingkar
dipergelangan tanganku dan menantinya datang. Aku menanti candaannya,
senyumannya, dan segalanya yang akan hilang dalam 30 menit lagi.
Beberapa mobil
ambulans melintasi halte bus tempatku menunggunya. Rasa khawatir tiba-tiba saja
muncul dalam sisi terdalam dan tak tersentuh di hatiku. Membuatku khawatir akan
keadaan lelaki yang ingin kutemui. Semoga dia baik-baik saja. Semoga.
Tiba-tiba ponselku
berdering. Menampilkan nama seseorang yang sedang kunanti. segera kuangkat
sebelum ia mengomel panjang. Terdengar nada panik di seberang telepon. Tetapi,
aku tidak mendengar suara lelaki itu. Yang terdengar hanya suara Paman-Paman.
Paman itu terdengar panik dan berbicara tidak jelas.
Seakan mengerti
akan kejadian di sana, aku segera berlari di mana Paman tadi memberitahukan
lokasinya. Aku tak peduli dengan apapun lagi. Hanya lelaki itu yang kupikirkan
sekarang.
Aku tersadar dari
lamunanku. Bising, penat, ramai. Itulah gambaran Kota Seoul hari ini. Garis
putih di aspal hitam yang tercetak jelas membentuk postur tubuh seseorang.
Kejadian itu memaksaku mengingat hal menyedihkan dalam hidupku. Kejadian yang
menyebabkan lelaki itu pergi.
Pergi. Jauh.
Sangat jauh.
“Jangan kau pergi
dari pandanganku, meski pagi datang menyapa
Cara mu melangkah
adalah caraku bermimpi
Hanya dirimu
kupu-kupu cantikku”
Jarum jam kecil di
nakas tempat tidur menunjukkan pukul 02.30, masih terlalu gelap untuk Sang
Mentari muncul. Angan-anganku melayang jauh entah ke mana. Memikirkan lelaki
itu, mungkin. Lelaki itu telah pergi. Meninggalkanku sendiri. Meninggalkan
hatiku yang terasa hampa. Membawa sebagian jiwaku. Mengkhianati janji yang dulu
ia ucapkan. Meninggalkan segalanya.
Aku tidak
mengharapkan ini terjadi. Aku merasa hampa. Tanpa dia. Tanpa penyemangatku.
Tiba-tiba, layar ponselku menyala. Menampilkan sebuah pesan dengan nama
pengirim dari lelaki itu. Aku mengambil ponselku dengan malas, membuka pesan
itu dan membacanya.
‘Apa kau
merindukanku?’
Mataku terbelalak
melihat rentetan kata singkat yang tertera di sana. Bagaimana bisa? Otakku
terus berputar mempertanyakan hal yang sama. Mencari-cari jawaban yang pasti
akan pesan yang baru saja kuterima. Gugup, gemetaran,
kubalas pesan singkat itu dengan cepat. Mempertanyakan apa maksud dari pesannya
dan mencari tahu siapa yang mengirimkan. Cukup lama ponselku tidak menyala
lagi. Kuputuskan untuk mandi sembari menunggu balasannya.
Layar itu menyala
lagi. Menampilkan ikon sebuah pesan. Cepat-cepat aku mengambilnya dan membuka
pesan itu. Isi ataupun jawaban dari pengirim membuatku tercekat. Dia, ah,
bukan, maksudku si pengirim, dia membalas sesuatu yang sangat rahasia bagiku
dan lelaki itu.
‘Temui aku di
Taman Nasional, seperti biasanya’.
Tanpa babibu lagi,
aku melesat ke kamar mandi. Mandi seadanya dan memakai pakaian yang biasa
kupakai. Si pengirim itu membuatku penasaran. Caranya menjawab, benar-benar
seperti lelaki itu. Apa dia kembali?
“Dari mana
datangmu? dan kemana kau akan pergi?
Apa kedatanganmu
untuk menemuiku?
Tidak ada yang
perlu kita takutkan, meskipun itu jalan tebing curam atau menanjak
Jangan khawatir.”
Langkah kaki yang
semakin lebar, semenjak melewati papan bertuliskan ‘Taman Nasional’. Rasa
penasaran bercampur gembira beradu menjadi satu. Memberikan rasa yang tidak
mengenakan di dalam perutku. Mengaduknya menjadi satu, dan sedikit membuatku
mual.
‘Sebentar lagi
sampai’.
Langit-langit
biru, awan-awan yang saling berkejaran satu sama lain. Daun-daun pepohonan yang
bergoyang diterpa angin, dan siluet lelaki yang tengah memandangi danau sembari
membelakangiku. Langkah kakiku semakin lebar saat jarak ini tidak lebih dari 5
meter.
Rambut yang
dulunya pirang berubah menjadi hitam kelam. Tubuh tegapnya masih sama seperti
dulu, meskipun aku yakin tinggi badannya bertambah. Dia lebih tinggi dariku.
Sosok itu berbalik. Memperlihatkan senyuman yang kurindukan. Tanpa komando,
kedua kakiku tergerak untuk berlari kearahnya, semakin mempertipis jarak yang
memisahkan kami.
Kedua tangannya
terbuka. Menyambut tubuhku dan pelukanku dalam buaian hangatnya. Salah satu
tangannya tergerak untuk mengusap surai hitam panjang milikku. Likuid-likuid
yang sekian lama kubendung akhirnya tumpah, mengalirkan anak-anak sungai di
sepanjang pipiku, beberapa merembes dijaket miliknya.
“Apa kau kembali
untukku?”
Suaraku bergetar.
Menanyakan pertanyaan bodoh yang mungkin saja tidak akan dijawab olehnya.
Kurasakan tangannya yang mengusap surai hitamku berpindah menjadi memelukku.
Ujung hidungnya menyentuh ujung kepalaku, merasakan deru nafas normalnya,
likuid-likuid yang mengalir semakin lama semakin deras.
“Jangan menangis.
Aku datang ingin melihat senyummu, bukan tangisanmu.”
Ia berucap,
lembut, seperti biasanya, meskipun ada sedikit gurauan yang tersirat di
dalamnya . Dadaku terasa sesak. Tangisku tidak berhenti, terus mengalir, bagai
keran air yang sudah tua dan minta diperbaiki. Pelukannya bertambah erat. Aku
tidak ingin kehilangan dia lagi.
“Bawa aku
bersamamu, ku mohon.”
Dia membalas
dengan sebuah senyuman, -aku yakin walaupun tidak melihatnya-. Pelukannya
melonggar. Salah satu tangannya memegang daguku, mengangkatnya perlahan,
kulihat wajah rupawan lelaki itu tengah memandangku. Senyuman menawan itu tidak
luntur, bahkan semakin lebar dan membuat kerupawaan itu semakin berlipat ganda.
“Sesuai dengan
perintahmu, Tuan Putri.”
Tangannya turun
dari daguku, mengulurkannya padaku. Aku menatap tangannya yang terulur dengan
perasaan ragu. Apakah aku harus ikut dengannya? Pikiranku berkecamuk, antara
iya atau tidak. Hening. Angin-angin malam bergelung lembut melewati celah-celah
yang tercipta di antara kami berdua. Aku menunduk dan mengamati uluran
tangannya intens.
“Jika kau belum
siap, tidak masalah.”
Tubuh tinggi nan
tegap itu berbalik, meskipun senyuman itu masih terpampang tetapi tidak dengan
mata dan hatinya. Dia sedih, dan mungkin sedikit kecewa. Kupandangi punggung
yang sekian detik terus menjauh. Sel-sel otakku yang terasa sangat serat untuk
bergerak kupaksakan untuk bergerak dan membuat sebuah keputusan yang akan
menentukan masa depanku kelak.
Kuambil sebuah
keputusan dan keputusan itu sudah bulat. Aku berlari mendekati tubuhnya. Kuraih
lengannya. Ia berhenti berjalan dan berbalik. Mendapatiku terengah-engah
sehabis mengejarnya. Sebuah senyuman perlahan terukir di wajahku, langkahnya
menuntunku menuju sebuah cahaya yang semakin lama semakin terang. Tepat pukul
03.30 kami memasuki ruang dan waktu yang tidak terjamah oleh siapapun. Memasuki
dimensi baru yang akan menentukan masa depan kami. Sekarang, besok, atau
selamanya.
-_-_-
Perlahan aku
melihat langkahmu
Mata kuatmu yang
tersembunyi dalam lembutnya pandanganmu
Aku tidak bisa
menyangkal semua itu
Bawalah aku pergi
bersamamu
Jangan kau pergi
dari pandanganku, meski pagi datang menyapa
Sentuhan tangan
kecilmu
Menempatkan hatiku
dalam pusaran cinta
-THE END-
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author's Note :
Akhirnya setelah beberapa tahun berlalu, baru bisa repost sekarang. Menerima kritik dan saran dalam bentuk apapun. See you next story~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar