Senin, 17 November 2014

[ONESHOOT] 0330

0330

-_-_-

Song fiction of Don’t Go
Performed by EXO

-_-_-

“Kepakan sayap kecilmu mencuri perhatianku
Gerak tanganmu, seakan menuntunku untuk mengikutimu
Setiap malamku, teringat akan ketulusan matamu dan cerita dalam diammu”



“Apa yang kau lakukan?”

Aku menoleh. Menatap mata tajam miliknya. Dia mengulum senyum yang membuatnya terlihat semakin tampan. Tangannya terulur mengambil lembaran kertas berserakan di sekitarku. Kedua manik cokelat gelapnya menatap serius lembar demi lembar karyaku. Mungkin aku tidak bisa menyebutnya dengan karya, mengingat lukisanku tidak lebih baik darinya.

“Apa ini aku?”

Dia bertanya dan menunjukkan selembar coretan yang kubuat acak. Sedikit kuselipkan nama lelaki itu di pojok lembarnya. Coretan nama itu tidak terlalu besar untuk rentetan barisan semut, bahkan semut yang melewatinya tidak akan menyadari jika itu sebuah nama.

“Kau ingin aku menilai lukisanmu?”

Tanya lelaki itu lembut. Bagian dari tubuhnya yang sangat kusukai, kelembutan. Dia mengetuk beberapa kali telunjuk ke dagunya, sedikit memiringkan kepala dan memandangi lukisanku, terdiam cukup lama. Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyum yang rupawan.

“Aku suka lukisanmu. Kau memang pandai melukis, sama sepertiku.”

Kami terdiam. Beberapa rangkaian kata yang bisa membuatku melayang jauh di langit biru nan luas dan menghempaskan diri ini di kapas lembut yang biasa disebut awan. Perlahan, sebuah tangan menggenggam pergelangan tanganku, membawaku dalam kedamaian yang tiada tara. Mata ini melirik sekilas wajah menawan itu. Kedua kelopak matanya tertutup, raut wajah yang damai, menikmati desiran angin Musim Semi yang damai.

Desiran angin nakal memainkan anak rambutku, membuatnya sedikit berantakan. Kulakukan hal yang sama dengan lelaki itu. Memejamkan kedua mataku, merasakan hembusan angin yang menampikkan syarat akan ketenangan.

“Aku ingin selamanya seperti ini. Bersama dirimu. Malaikatku.”

Aku terbangun. Mendapati diriku dalam balutan selimut cokelat muda dan ruangan sempit yang kusebut sebagai kamar tidur. Mimpi. Ternyata hal indah saat bersamanya hanya mimpi. Kulirik jam kecil yang bertengger di nakas samping ranjangku.

“Jam 03.30”, gumamku sembari menyibakkan selimut yang membalut tubuhku, merangkak perlahan ke arah jendela dan membukanya perlahan. Angin dingin khas malam menyapu seluruh permukaan wajahku. Dinginnya menusuk. Tidak berbeda jauh dengan hatiku.

“Aku tersesat. Terjatuh dalam indahnya pesonamu
Melupakan bagaimana cara bernafas, aku mabuk oleh keindahanmu
Tidak bisa lepas mata ini saat melihat cara dudukmu yang lembut seperti Waltz
Mata ini, selalu mengikuti ke mana pun kau melangkah”

“Hei, kau mau kemana?”

Lelaki itu tidak menoleh sedikit pun. Tubuh tegapnya, kakinya yang panjang, membuatku harus berlari agar langkahku sama dengannya. Lihatlah raut datar yang ia tampilkan, sangat berbeda dengan kepribadian yang sesungguhnya. Walau begitu, dia tetap menjadi kesukaanku kapan pun dan dimana pun. Lelaki ini adalah nafasku, inspirasiku, ketenanganku, bahkan hidupku. Mata ini selalu memandangnya. Apapun itu, termasuk berjalan, makan, duduk, tersenyum, tertawa, menangis, sampai mencintaiku. Dan, yah, aku juga mencintainya. Terjebak terlalu dalam akan pesonanya.

“Apa lagi yang kau lamunkan?”

Dia berhenti. Membalikkan badan tiba-tiba. Aku tersentak. Tidak sengaja terbentur oleh dada bidangnya. Dia menatapku aneh, sedangkan aku mengusap dahiku yang cukup sakit. Aku menunduk. Tidak berani menatap makhluk yang Tuhan ciptakan dengan jenis laki-laki, tetapi memiliki ketampanan melebihi kata normal.

“Kau selalu seperti itu. Lain kali jangan melamun, mengerti?”

Aku mengangguk menanggapi nasihat yang dia ucapkan. Tangan kanannya terulur dan menggenggam pergelangan tanganku dengan lembut. Lelaki itu melangkahkan kaki, bergeming dan memaksa diriku untuk menggerakkan kedua kaki yang seakan membeku di tempat. Dia terlalu berpengaruh untukku.

Lorong-lorong sekolah terlihat lenggang. Menyisakan gema langkah kaki kami yang saling beradu. Sang Mega menyongsong di ufuk barat, terlihat bias oranye yang bercampur dengan nila, membentuk perpaduan warna yang memesona. Seberkas cahaya menyinari wajah rupawan yang masih menarikku untuk berjalan. Membingkai wajahnya dengan anggun, bak malaikat turun dari Surga. Mata ini, tidak pernah terlepas dari gerak-geriknya. Memandanginya dalam diam. Walaupun, tak jarang diketahui oleh sang pemilik.

Lorong-lorong sepi dengan dedaunan berserakan di sudut-sudut lantainya. Seberkas cahaya masuk melalui jendela yang beberapa kacanya telah pecah. Menyinari secercah harapan di sudut gelap lorong ini. Kenangan itu tercetak jelas dalam hampanya udara. Bagai layar proyektor yang menampilkan gambar hologram tembus pandang. Bayangan dua makhluk ciptaan Tuhan dengan senyum bahagia dan tawa lepas yang membingkai wajah keduanya. Candaan terlontar dari bibir mungil Sang Gadis terdengar begitu jelas melalui indera pendengaranku, merasakan rasa sesak yang tiba-tiba datang.

“Bawalah aku ke tempat kau berada
Bawa aku bersamamu
Meskipun itu di ujung dunia, aku akan terus mengikutimu”

“Lihat! Aku berhasil mendapatkan beasiswa itu.”

Dia berteriak senang. Berlari ke arahku sembari melambai-lambaikan selembar amplop putih besar. Hatiku mencelos melihat senyumnya. Terasa sesak. Seakan menginginkannya agar tidak pergi. Menginginkan dia terus bersamaku, di sisiku.

“Ada apa denganmu? Apa kau tidak senang?”

Raut kesedihan itu. Jujur, aku membenci ekspresi wajahnya yang menyedihkan seperti itu. Bagaikan anak anjing yang tidak diberi makan selama satu minggu. Kuulas senyum kecil membalas raut sedihnya. Pelan, wajahnya kembali menjadi Sang Mentari di Musim Semi.

“Aku akan sering-sering mengabarimu dari Canada nanti. Tunggulah sampai aku pulang.”, ucapnya semangat. Aku menunduk. Meragukan setiap kata yang terlontar dari bibirnya.

“Aku janji. Aku akan datang padamu.”

Aku mendongak. Menatap manik cokelat miliknya, mencari-cari jikalau dia berbohong. Tetapi aku salah. Tidak ada kebohongan di sana. Yang ada hanyalah kejujuran yang sangat mendalam. Ia berjanji akan kembali dan aku percaya itu.

“Terima kasih.”

Pelukan. Dia memelukku. Rasa hangat yang mengalir bagaikan aliran listrik, menyengat, memberikan sensasi tersendiri. Berkali-kali dia menggumamkan kata ‘terima kasih’ dan ‘aku mencintaimu’ di dekat daun telingaku. Pipiku terasa panas dan aku yakin warna merah tercetak jelas di kedua sisi pipiku.

-_-_-

Hari demi hari berlalu begitu cepat. Hari ini, pukul 09.30, aku akan mengantarkannya ke Bandara. Di Halte Bus ini aku menunggu kehadirannya, melihat jam yang melingkar dipergelangan tanganku dan menantinya datang. Aku menanti candaannya, senyumannya, dan segalanya yang akan hilang dalam 30 menit lagi.

Beberapa mobil ambulans melintasi halte bus tempatku menunggunya. Rasa khawatir tiba-tiba saja muncul dalam sisi terdalam dan tak tersentuh di hatiku. Membuatku khawatir akan keadaan lelaki yang ingin kutemui. Semoga dia baik-baik saja. Semoga.

Tiba-tiba ponselku berdering. Menampilkan nama seseorang yang sedang kunanti. segera kuangkat sebelum ia mengomel panjang. Terdengar nada panik di seberang telepon. Tetapi, aku tidak mendengar suara lelaki itu. Yang terdengar hanya suara Paman-Paman. Paman itu terdengar panik dan berbicara tidak jelas.

Seakan mengerti akan kejadian di sana, aku segera berlari di mana Paman tadi memberitahukan lokasinya. Aku tak peduli dengan apapun lagi. Hanya lelaki itu yang kupikirkan sekarang.

Aku tersadar dari lamunanku. Bising, penat, ramai. Itulah gambaran Kota Seoul hari ini. Garis putih di aspal hitam yang tercetak jelas membentuk postur tubuh seseorang. Kejadian itu memaksaku mengingat hal menyedihkan dalam hidupku. Kejadian yang menyebabkan lelaki itu pergi.

Pergi. Jauh. Sangat jauh.

“Jangan kau pergi dari pandanganku, meski pagi datang menyapa
Cara mu melangkah adalah caraku bermimpi
Hanya dirimu kupu-kupu cantikku”

Jarum jam kecil di nakas tempat tidur menunjukkan pukul 02.30, masih terlalu gelap untuk Sang Mentari muncul. Angan-anganku melayang jauh entah ke mana. Memikirkan lelaki itu, mungkin. Lelaki itu telah pergi. Meninggalkanku sendiri. Meninggalkan hatiku yang terasa hampa. Membawa sebagian jiwaku. Mengkhianati janji yang dulu ia ucapkan. Meninggalkan segalanya.

Aku tidak mengharapkan ini terjadi. Aku merasa hampa. Tanpa dia. Tanpa penyemangatku. Tiba-tiba, layar ponselku menyala. Menampilkan sebuah pesan dengan nama pengirim dari lelaki itu. Aku mengambil ponselku dengan malas, membuka pesan itu dan membacanya.

‘Apa kau merindukanku?’ 

Mataku terbelalak melihat rentetan kata singkat yang tertera di sana. Bagaimana bisa? Otakku terus berputar mempertanyakan hal yang sama. Mencari-cari jawaban yang pasti akan pesan yang baru saja kuterima. Gugup, gemetaran, kubalas pesan singkat itu dengan cepat. Mempertanyakan apa maksud dari pesannya dan mencari tahu siapa yang mengirimkan. Cukup lama ponselku tidak menyala lagi. Kuputuskan untuk mandi sembari menunggu balasannya.

Layar itu menyala lagi. Menampilkan ikon sebuah pesan. Cepat-cepat aku mengambilnya dan membuka pesan itu. Isi ataupun jawaban dari pengirim membuatku tercekat. Dia, ah, bukan, maksudku si pengirim, dia membalas sesuatu yang sangat rahasia bagiku dan lelaki itu.

‘Temui aku di Taman Nasional, seperti biasanya’.

Tanpa babibu lagi, aku melesat ke kamar mandi. Mandi seadanya dan memakai pakaian yang biasa kupakai. Si pengirim itu membuatku penasaran. Caranya menjawab, benar-benar seperti lelaki itu. Apa dia kembali?

“Dari mana datangmu? dan kemana kau akan pergi?
Apa kedatanganmu untuk menemuiku?
Tidak ada yang perlu kita takutkan, meskipun itu jalan tebing curam atau menanjak
Jangan khawatir.”

Langkah kaki yang semakin lebar, semenjak melewati papan bertuliskan ‘Taman Nasional’. Rasa penasaran bercampur gembira beradu menjadi satu. Memberikan rasa yang tidak mengenakan di dalam perutku. Mengaduknya menjadi satu, dan sedikit membuatku mual.

‘Sebentar lagi sampai’.

Langit-langit biru, awan-awan yang saling berkejaran satu sama lain. Daun-daun pepohonan yang bergoyang diterpa angin, dan siluet lelaki yang tengah memandangi danau sembari membelakangiku. Langkah kakiku semakin lebar saat jarak ini tidak lebih dari 5 meter.

Rambut yang dulunya pirang berubah menjadi hitam kelam. Tubuh tegapnya masih sama seperti dulu, meskipun aku yakin tinggi badannya bertambah. Dia lebih tinggi dariku. Sosok itu berbalik. Memperlihatkan senyuman yang kurindukan. Tanpa komando, kedua kakiku tergerak untuk berlari kearahnya, semakin mempertipis jarak yang memisahkan kami.

Kedua tangannya terbuka. Menyambut tubuhku dan pelukanku dalam buaian hangatnya. Salah satu tangannya tergerak untuk mengusap surai hitam panjang milikku. Likuid-likuid yang sekian lama kubendung akhirnya tumpah, mengalirkan anak-anak sungai di sepanjang pipiku, beberapa merembes dijaket miliknya.

“Apa kau kembali untukku?”

Suaraku bergetar. Menanyakan pertanyaan bodoh yang mungkin saja tidak akan dijawab olehnya. Kurasakan tangannya yang mengusap surai hitamku berpindah menjadi memelukku. Ujung hidungnya menyentuh ujung kepalaku, merasakan deru nafas normalnya, likuid-likuid yang mengalir semakin lama semakin deras.

“Jangan menangis. Aku datang ingin melihat senyummu, bukan tangisanmu.”

Ia berucap, lembut, seperti biasanya, meskipun ada sedikit gurauan yang tersirat di dalamnya . Dadaku terasa sesak. Tangisku tidak berhenti, terus mengalir, bagai keran air yang sudah tua dan minta diperbaiki. Pelukannya bertambah erat. Aku tidak ingin kehilangan dia lagi.

“Bawa aku bersamamu, ku mohon.”

Dia membalas dengan sebuah senyuman, -aku yakin walaupun tidak melihatnya-. Pelukannya melonggar. Salah satu tangannya memegang daguku, mengangkatnya perlahan, kulihat wajah rupawan lelaki itu tengah memandangku. Senyuman menawan itu tidak luntur, bahkan semakin lebar dan membuat kerupawaan itu semakin berlipat ganda.

“Sesuai dengan perintahmu, Tuan Putri.”

Tangannya turun dari daguku, mengulurkannya padaku. Aku menatap tangannya yang terulur dengan perasaan ragu. Apakah aku harus ikut dengannya? Pikiranku berkecamuk, antara iya atau tidak. Hening. Angin-angin malam bergelung lembut melewati celah-celah yang tercipta di antara kami berdua. Aku menunduk dan mengamati uluran tangannya intens.

“Jika kau belum siap, tidak masalah.”

Tubuh tinggi nan tegap itu berbalik, meskipun senyuman itu masih terpampang tetapi tidak dengan mata dan hatinya. Dia sedih, dan mungkin sedikit kecewa. Kupandangi punggung yang sekian detik terus menjauh. Sel-sel otakku yang terasa sangat serat untuk bergerak kupaksakan untuk bergerak dan membuat sebuah keputusan yang akan menentukan masa depanku kelak.

Kuambil sebuah keputusan dan keputusan itu sudah bulat. Aku berlari mendekati tubuhnya. Kuraih lengannya. Ia berhenti berjalan dan berbalik. Mendapatiku terengah-engah sehabis mengejarnya. Sebuah senyuman perlahan terukir di wajahku, langkahnya menuntunku menuju sebuah cahaya yang semakin lama semakin terang. Tepat pukul 03.30 kami memasuki ruang dan waktu yang tidak terjamah oleh siapapun. Memasuki dimensi baru yang akan menentukan masa depan kami. Sekarang, besok, atau selamanya.

-_-_-

Perlahan aku melihat langkahmu

Mata kuatmu yang tersembunyi dalam lembutnya pandanganmu

Aku tidak bisa menyangkal semua itu

Bawalah aku pergi bersamamu

Jangan kau pergi dari pandanganku, meski pagi datang menyapa

Sentuhan tangan kecilmu

Menempatkan hatiku dalam pusaran cinta

-THE END-
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author's Note :
Akhirnya setelah beberapa tahun berlalu, baru bisa repost sekarang. Menerima kritik dan saran dalam bentuk apapun. See you next story~

-Hyo Hyo a.k.a Shin-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar