Sabtu, 05 September 2015

[ONESHOOT] Edelweis



Edelweis


Author : hsung

*****

“Sesuatu yang tidak bisa kau sentuh

 Suatu hal yang menyeretmu memasukinya

Terjerumus dalam dunia fana yang tak ayal menjadi kenyataan

Sebuah imajinasi belaka yang mampu mengubah segalanya

Bagaikan jurang tak berujung



Memberikan misteri

Dan kenyataan”

*****

Dengkuran halus seseorang yang tidak asing lagi bagiku, merambat lembut melalui celah-celah udara, tertangkap oleh daun telingaku, diteruskan masuk melalui rongga telinga dan diterima oleh gendang telinga, impulf-impulf saraf dari gendang telinga yang menerima rangsang bunyi tersebut meneruskan ke dalam rumah siput dan di teruskan ke jaringan sel-sel otak. Memberikan sebuah pernyataan, jawaban atas rangsangan yang kuterima tadi.

Berkas-berkas cahaya Sang Penyambut Pagi merambat melalui celah jendela yang semalam belum sempat aku tutup. Ruangan yang sebelumnya gelap gulita, perlahan menjadi remang dan menampakkan adanya kehidupan. Perlahan, bias cahaya mengenai permukaan wajahku, membuatku tersadar dari bayangan gelap –yang menurutku agak mengerikan-.

Suara dengkuran halus itu sudah tidak terdengar lagi. Kicauan burung gereja yang hinggap pada dahan kering pohon mapple –yang mulai meranggas- seberang jalan memenuhi indera pendengaranku yang belum berfungsi dengan benar. Kosong. Ruangan ini hanya berisi diriku yang terbaring di ranjang kecil dengan selimut biru langit yang membungkus diriku. Rasa hangat akan balutan selimut ini menyapu dinginnya pagi yang mengelilingi atmosfer sekitarku.

Dentingan jarum jam yang berada di dinding cerobong kamar ini berdentang lambat. Terlalu lambat mungkin. Aku beringsut turun dari ranjangku. Menyambar handuk yang tergantung di belakang pintu kamar, berjalan gontai menuju kamar mandi yang berada di ruangan ini. Keseharianku. Benar-benar datar, biasa, dan tanpa warna.

*****

Kendaraan-kendaraan berlalu lalang melintasi jalanan kota yang cukup padat pada pagi ini. Hiruk-pikuk kendaraan yang melintas, ditambah setiap batang hidung manusia yang melewati pinggir-pinggir trotoar yang mulai memadat. Diriku sendiri. Di bawah naungan halte bus yang ramai, memandangi satu persatu manusia-manusia yang berlalu lalang.

Hening. Pikiranku yang sebelumnya terisi dengan rentetan rencana kegiatan yang harus kulakukan mendadak hilang. Bagaikan komputer yang terserang oleh virus dan melakukan format ulang tanpa di komando terlebih dahulu. Manusia-manusia itu bagaikan proyeksi holograf tembus pandang yang berlalu di pandanganku. Semuanya terlihat samar, buram, dan tidak nyata.

Sosok itu kembali terlihat. Berdiri dengan gagahnya menggunakan jas hitam kebesarannya dan wajah memesona yang memikat. Kendaraan, manusia, mereka hanyalah layar proyeksi yang tidak dapat mengalihkan pandanganku dari sosok yang masih berdiri di sana, di seberang sana.

Nafsu menuntunku untuk menemuinya, memeluknya erat, dan mengatakan bahwa dia tidak akan meninggalkanku lagi. Tetapi, nafsu yang sudah naik ke ubun-ubun hilang sudah saat dia tidak lagi berdiri di sana. Tubuhku tergulai lemas. Semangatku menjadi hilang entah ke mana. Meninggalkanku dengan raga yang tidak ada artinya. Dia pergi. Lagi. Kenyataan pahit yang harus kuterima setiap kali melihatnya. Kapanpun dan dimanapun.

Entah aku harus bersyukur atau malah mengutuk Tuhan yang memberikan takdir tidak adil padaku. Tidak adil? Apakah itu bisa dikatakan tidak adil? Tuhan memang adil. Aku tahu itu. Tetapi, untuk kali ini saja, biarkan aku merasakan kebahagiaan dengan sosok ciptaan-Mu yang mungkin saja merupakan ciptaan terbaik-Mu. Aku tahu, aku lancang. Tapi, tekadku sudah bulat.

*****

30 menit berlalu dengan kekosongan halte bus ini. Seperti hatiku, kosong. Menantikan seseorang yang tidak akan kembali, menunggu, itu hal terbodoh yang kujalani saat ini. Menunggu kehadiran seseorang yang tidak akan datang.

Semilir angin musim gugur menampar wajahku dengan kerasnya. Menyuruhku tersadar akan lamunan bodoh yang sekian lama makin menjadi. Menyadarkanku dari ilusi semata-mata hanya bualan yang dikatakan oleh anak taman kanak-kanak. Namun, bodohnya aku. Seakan tak mau lamunan itu hanya semata lamunan, aku mempercayai apa yang kulamunkan. Mempercayai semua hal yang menjadi ilusi untukku. Mempercayai semua mimpi bodoh yang terlintas maupun bersarang di otakku.

Kulangkahkan kedua kakiku meninggalkan halte bus. Menyusuri jalanan trotoar yang mulai lengah. Kutundukkan kepalaku, mengamati setiap petak paving yang tertata rapi. Menyusurinya tanpa melihat arah mana yang kutuju. Biarlah itu menjadi sebuah misteri. Misteri untukku.

Langkahku terhenti. Tanganku tergerak mengambil sobekan kertas usang yang terjatuh tepat di depanku. Kertas itu tidak asing bagiku. Bentuk sobekan kertas itu benar-benar tidak rapi. Aku tertawa kecil melihatnya. Tidak sengaja kedua manik mataku menatap sebuah tulisan tangan yang sangat kukenal. Tulisan itu. Tulisan yang sangat abstrak tapi sangat berarti bagiku. Tulisan itu adalah tulisan tangan darinya.

‘Kau merindukanku?’

Sebuah kalimat yang menawan. Butiran bening tidak terasa mengalir dengan mulusnya melewati pipiku. Kepalaku menengadah. Menatap awan yang saling berkejaran satu sama lain. Memejamkan mata meresapi hembusan angin musim gugur yang mengalun lembut melewati atmosfer di sekitarku. Memainkan anak-anak rambutku yang tergerai.

Kenangan itu kembali terlintas dalam benak yang hampa. Kenangan saat dirinya mengirim surat-surat aneh lewat sobekan kertas bahkan dengan tulisan yang sama. Salah satunya isi dan tujuannya. Membuatku tersenyum sendiri saat membacanya. Kenangan yang indah. Tetapi, aku tidak bisa memutarnya lagi menjadi kenyataan.

“Jangan melamun terus”.

Suara itu. Apa itu hanya halusinasi? Apakah aku sedang bermimpi? Apakah suara itu hanya bualan semata?, seperti yang kulalui selama ini. Atau itu hanya sebuah hembusan angin hampa? Suara itu masih sama seperti dulu. Tegas sekaligus menenangkan. Aku kembali tersenyum sementara cairan bening dari mataku kembali mengalir.

Ini terlalu menyakitkan.

“Jangan menangis lagi. Hei, berhentilah menangis. Banyak yang melihatmu”.

Suara itu terdengar lagi. Aku tahu, aku pasti sedang bermimpi. Suara itu masih terdengar. Terdengar. Jelas. Sangat jelas. Memaksaku membuka kedua kelopak mata ini. Mataku terbelalak, seakan-akan ingin keluar dari tempatnya. Sosok itu. Sosok lelaki itu berdiri dengan tegapnya di depanku sembari memandangku dengan tatapan polosnya. Sedikit memiringkan kepala sebenarnya.

“Apa yang kau tangisi?”

Pertanyaan keluar dari bibir merah muda miliknya. Membuatku mengukir sebuah senyuman. Senyuman yang selama ini kurindukan. Senyuman saat memandang tatapan serta tindakan darinya yang menurutku sangat polos.

“Kau,…. kembali….?”

Tanyaku menggantung. Dia tersenyum. Mengulurkan sebelah tangannya. Dengan antusias aku menyambut uluran tangannya. Menggenggamnya erat. Seakan tidak mengijinkanya pergi dari sisiku lagi. Sudah cukup. Cukup dia membuatku tersiksa saat dia tidak ada. Biarkan aku bahagia dengan jalan yang Tuhan tentukan sekarang.

“Ayo, kita pergi”.

Dia menarik tanganku dengan lembut. Membawaku ke suatu tempat yang hanya dia, aku, dan Tuhan Yang Maha Adil yang tahu. Sebuah tempat yang menjadi masa depan bagi kami berdua. Sebuah tempat yang menghilangkan sisa kepedihan saat dia tiada. Sebuah tempat yang selalu ku impikan dapat ku datangi dengannya. Hanya berdua. Di sebuah dunia yang serasa milik kami berdua.

***** 

Tuhan Maha Adil.

Semua orang mengakui-Nya

 Kisah cinta yang berakhir menyedihkan?

Tidak. Tidak ada kisah cinta yang berakhir tragis.

Bagaikan bunga Edielwish.

Cinta datang

Memberikan keindahan

Walaupun hanya sebesar biji padi

Tetapi banyak cobaan menyerang

Cinta tetap bertahan

Sampai akhirnya menemui sebuah waktu yang dimimpikan setiap orang

Sebuah waktu yang menjadi penentu untuk cinta

Sebuah waktu yang disebut selamanya


-The End-

.

.

.

.

.


Author’s Notes :



Sebenarnya ini hanya re-post dari laman saya yang satunya. Mohon maaf atas kata-prakata yang berlebihan. Saya masih amatiran. Mohon kritik dan sarannya. Ini asli dari pemikiran saya. Maaf jika kurang berkenan dan masih banyak terdapat kesalahan. Semoga terkesan atas cerpen abstrak yang saya buat. Terima kasih banyak telah membaca cerita saya.

-Hyo Hyo-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar