Edelweis
Author : hsung
*****
“Sesuatu yang tidak bisa kau sentuh
Suatu hal yang menyeretmu memasukinya
Terjerumus dalam dunia fana yang tak ayal menjadi kenyataan
Sebuah imajinasi belaka yang mampu mengubah segalanya
Bagaikan jurang tak berujung
Memberikan misteri
Dan kenyataan”
Suatu hal yang menyeretmu memasukinya
Terjerumus dalam dunia fana yang tak ayal menjadi kenyataan
Sebuah imajinasi belaka yang mampu mengubah segalanya
Bagaikan jurang tak berujung
Memberikan misteri
Dan kenyataan”
*****
Dengkuran halus seseorang yang tidak asing lagi
bagiku, merambat lembut melalui celah-celah udara, tertangkap oleh daun
telingaku, diteruskan masuk melalui rongga telinga dan diterima oleh gendang
telinga, impulf-impulf saraf dari gendang telinga yang menerima rangsang bunyi
tersebut meneruskan ke dalam rumah siput dan di teruskan ke jaringan sel-sel
otak. Memberikan sebuah pernyataan, jawaban atas rangsangan yang kuterima tadi.
Berkas-berkas cahaya Sang Penyambut Pagi merambat
melalui celah jendela yang semalam belum sempat aku tutup. Ruangan yang
sebelumnya gelap gulita, perlahan menjadi remang dan menampakkan adanya
kehidupan. Perlahan, bias cahaya mengenai permukaan wajahku, membuatku tersadar
dari bayangan gelap –yang menurutku agak mengerikan-.
Suara dengkuran halus itu sudah tidak terdengar lagi.
Kicauan burung gereja yang hinggap pada dahan kering pohon mapple –yang mulai
meranggas- seberang jalan memenuhi indera pendengaranku yang belum berfungsi
dengan benar. Kosong. Ruangan ini hanya berisi diriku yang terbaring di ranjang
kecil dengan selimut biru langit yang membungkus diriku. Rasa hangat akan
balutan selimut ini menyapu dinginnya pagi yang mengelilingi atmosfer
sekitarku.
Dentingan jarum jam yang berada di dinding cerobong
kamar ini berdentang lambat. Terlalu lambat mungkin. Aku beringsut turun dari
ranjangku. Menyambar handuk yang tergantung di belakang pintu kamar, berjalan
gontai menuju kamar mandi yang berada di ruangan ini. Keseharianku. Benar-benar
datar, biasa, dan tanpa warna.
*****
Kendaraan-kendaraan berlalu lalang melintasi jalanan
kota yang cukup padat pada pagi ini. Hiruk-pikuk kendaraan yang melintas,
ditambah setiap batang hidung manusia yang melewati pinggir-pinggir trotoar
yang mulai memadat. Diriku sendiri. Di bawah naungan halte bus yang ramai,
memandangi satu persatu manusia-manusia yang berlalu lalang.
Hening. Pikiranku yang sebelumnya terisi dengan
rentetan rencana kegiatan yang harus kulakukan mendadak hilang. Bagaikan
komputer yang terserang oleh virus dan melakukan format ulang tanpa di komando
terlebih dahulu. Manusia-manusia itu bagaikan proyeksi holograf tembus pandang
yang berlalu di pandanganku. Semuanya terlihat samar, buram, dan tidak nyata.
Sosok itu kembali terlihat. Berdiri dengan gagahnya
menggunakan jas hitam kebesarannya dan wajah memesona yang memikat. Kendaraan,
manusia, mereka hanyalah layar proyeksi yang tidak dapat mengalihkan
pandanganku dari sosok yang masih berdiri di sana, di seberang sana.
Nafsu menuntunku untuk menemuinya, memeluknya erat,
dan mengatakan bahwa dia tidak akan meninggalkanku lagi. Tetapi, nafsu yang
sudah naik ke ubun-ubun hilang sudah saat dia tidak lagi berdiri di sana.
Tubuhku tergulai lemas. Semangatku menjadi hilang entah ke mana. Meninggalkanku
dengan raga yang tidak ada artinya. Dia pergi. Lagi. Kenyataan pahit yang harus
kuterima setiap kali melihatnya. Kapanpun dan dimanapun.
Entah aku harus bersyukur atau malah mengutuk Tuhan
yang memberikan takdir tidak adil padaku. Tidak adil? Apakah itu bisa dikatakan
tidak adil? Tuhan memang adil. Aku tahu itu. Tetapi, untuk kali ini saja,
biarkan aku merasakan kebahagiaan dengan sosok ciptaan-Mu yang mungkin saja
merupakan ciptaan terbaik-Mu. Aku tahu, aku lancang. Tapi, tekadku sudah bulat.
*****
30 menit berlalu dengan kekosongan halte bus ini.
Seperti hatiku, kosong. Menantikan seseorang yang tidak akan kembali, menunggu,
itu hal terbodoh yang kujalani saat ini. Menunggu kehadiran seseorang yang
tidak akan datang.
Semilir angin musim gugur menampar wajahku dengan
kerasnya. Menyuruhku tersadar akan lamunan bodoh yang sekian lama makin
menjadi. Menyadarkanku dari ilusi semata-mata hanya bualan yang dikatakan oleh
anak taman kanak-kanak. Namun, bodohnya aku. Seakan tak mau lamunan itu hanya
semata lamunan, aku mempercayai apa yang kulamunkan. Mempercayai semua hal yang
menjadi ilusi untukku. Mempercayai semua mimpi bodoh yang terlintas maupun
bersarang di otakku.
Kulangkahkan kedua kakiku meninggalkan halte bus.
Menyusuri jalanan trotoar yang mulai lengah. Kutundukkan kepalaku, mengamati
setiap petak paving yang tertata rapi. Menyusurinya tanpa melihat arah mana
yang kutuju. Biarlah itu menjadi sebuah misteri. Misteri untukku.
Langkahku terhenti. Tanganku tergerak mengambil
sobekan kertas usang yang terjatuh tepat di depanku. Kertas itu tidak asing
bagiku. Bentuk sobekan kertas itu benar-benar tidak rapi. Aku tertawa kecil
melihatnya. Tidak sengaja kedua manik mataku menatap sebuah tulisan tangan yang
sangat kukenal. Tulisan itu. Tulisan yang sangat abstrak tapi sangat berarti
bagiku. Tulisan itu adalah tulisan tangan darinya.
‘Kau merindukanku?’
Sebuah kalimat yang menawan. Butiran bening tidak
terasa mengalir dengan mulusnya melewati pipiku. Kepalaku menengadah. Menatap
awan yang saling berkejaran satu sama lain. Memejamkan mata meresapi hembusan
angin musim gugur yang mengalun lembut melewati atmosfer di sekitarku.
Memainkan anak-anak rambutku yang tergerai.
Kenangan itu kembali terlintas dalam benak yang hampa.
Kenangan saat dirinya mengirim surat-surat aneh lewat sobekan kertas bahkan
dengan tulisan yang sama. Salah satunya isi dan tujuannya. Membuatku tersenyum
sendiri saat membacanya. Kenangan yang indah. Tetapi, aku tidak bisa memutarnya
lagi menjadi kenyataan.
“Jangan melamun terus”.
Suara itu. Apa itu hanya halusinasi? Apakah aku sedang
bermimpi? Apakah suara itu hanya bualan semata?, seperti yang kulalui selama
ini. Atau itu hanya sebuah hembusan angin hampa? Suara itu masih sama seperti
dulu. Tegas sekaligus menenangkan. Aku kembali tersenyum sementara cairan
bening dari mataku kembali mengalir.
Ini terlalu menyakitkan.
“Jangan menangis lagi. Hei, berhentilah menangis.
Banyak yang melihatmu”.
Suara itu terdengar lagi. Aku tahu, aku pasti sedang
bermimpi. Suara itu masih terdengar. Terdengar. Jelas. Sangat jelas. Memaksaku
membuka kedua kelopak mata ini. Mataku terbelalak, seakan-akan ingin keluar
dari tempatnya. Sosok itu. Sosok lelaki itu berdiri dengan tegapnya di depanku
sembari memandangku dengan tatapan polosnya. Sedikit memiringkan kepala
sebenarnya.
“Apa yang kau tangisi?”
Pertanyaan keluar dari bibir merah muda miliknya.
Membuatku mengukir sebuah senyuman. Senyuman yang selama ini kurindukan.
Senyuman saat memandang tatapan serta tindakan darinya yang menurutku sangat
polos.
“Kau,…. kembali….?”
Tanyaku menggantung. Dia tersenyum. Mengulurkan
sebelah tangannya. Dengan antusias aku menyambut uluran tangannya.
Menggenggamnya erat. Seakan tidak mengijinkanya pergi dari sisiku lagi. Sudah
cukup. Cukup dia membuatku tersiksa saat dia tidak ada. Biarkan aku bahagia
dengan jalan yang Tuhan tentukan sekarang.
“Ayo, kita pergi”.
Dia menarik tanganku dengan lembut. Membawaku ke suatu
tempat yang hanya dia, aku, dan Tuhan Yang Maha Adil yang tahu. Sebuah tempat
yang menjadi masa depan bagi kami berdua. Sebuah tempat yang menghilangkan sisa
kepedihan saat dia tiada. Sebuah tempat yang selalu ku impikan dapat ku datangi
dengannya. Hanya berdua. Di sebuah dunia yang serasa milik kami berdua.
*****
Tuhan Maha Adil.
Semua orang mengakui-Nya
Kisah cinta yang berakhir menyedihkan?
Tidak. Tidak ada kisah cinta yang berakhir tragis.
Bagaikan bunga Edielwish.
Cinta datang
Memberikan keindahan
Walaupun hanya sebesar biji padi
Tetapi banyak cobaan menyerang
Cinta tetap bertahan
Sampai akhirnya menemui sebuah waktu yang dimimpikan setiap orang
Sebuah waktu yang menjadi penentu untuk cinta
Sebuah waktu yang disebut selamanya
Tuhan Maha Adil.
Semua orang mengakui-Nya
Kisah cinta yang berakhir menyedihkan?
Tidak. Tidak ada kisah cinta yang berakhir tragis.
Bagaikan bunga Edielwish.
Cinta datang
Memberikan keindahan
Walaupun hanya sebesar biji padi
Tetapi banyak cobaan menyerang
Cinta tetap bertahan
Sampai akhirnya menemui sebuah waktu yang dimimpikan setiap orang
Sebuah waktu yang menjadi penentu untuk cinta
Sebuah waktu yang disebut selamanya
-The End-
.
.
.
.
.
Author’s Notes :
Sebenarnya ini hanya re-post dari laman saya yang satunya. Mohon maaf atas kata-prakata yang berlebihan. Saya
masih amatiran. Mohon kritik dan sarannya. Ini asli dari pemikiran saya. Maaf
jika kurang berkenan dan masih banyak terdapat kesalahan. Semoga terkesan atas
cerpen abstrak yang saya buat. Terima kasih banyak telah membaca cerita saya.
-Hyo Hyo-
-Hyo Hyo-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar